![]() |
| Antara Fakta, Analisis dan Opini |
Antara Fakta, Analisis dan Opini
Fakta adalah soal validitas, analisis adalah soal rigiditas, dan opini adalah soal integritas
Pernyataan itu harus saya sampaikan di hari terakhir 2014 ini, karena
"dipaksa" opini Joko P (Kompasioner & Barbarisme Jurnalistik) tanggapan
Nararya (Pepih Nugraha: Benar-tidaknya Analisa, Urusan Belakang).
Diskusi Joko dan Nararya dipicu oleh kekagetan Joko atas tanggapan Pepih Nugraha terhadap artikel opini Heru Andika (Teori Konspirasi Baru di Balik Kecelakaan MH 370, peringkat kedua di antara 14 Artikel Berita Paling Populer di Tahun 2014). (Ojo kagetan, Mas Joko).
Fakta
Fakta adalah data empiris. Ukurannya bukan benar atau salah. Tapi valid atau invalid. Artinya, apakah data mewakili realitas empiris atau tidak.
Dengan mengambil kasus penerbangan pesawat komersil, Nararya sudah memberikan contoh fakta atau data empiris yang dapat diuji validitasnya: nomor penerbangan, jumlah dan identitas awak dan penumpang, waktu take off, waktu dan isi kontak dengan ATF, dan kordinat posisi pesawat pada waktu tertentu.
Dalam setiap tulisan, termasuk di Kompasiana, maka setiap fakta atau data yang disertakan harus valid dan harus bisa diuji validitasnya. Jika tidak, maka bukan fakta, tapi fiktif, atau kebohongan. Tulisan semacam itu, kecuali karya fiksi, adalah hoax.
Maka, untuk keperluan validitas fakta atau data, setiap penulis di Kompasiana mestinya selalu mencantumkan sumber data, baik primer maupun sekunder.
Analisis
Analisis adalah soal rigiditas, bukan soal benar atau salah (koreksi untuk Pepih Nugraha).
Alat utama analisis adalah logika. Jadi, kita hanya bisa katakan suatu analisis logis atau tak logis. Artinya, apakah kesimpulan tentang hubungan antara satu fakta dengan fakta lainnya masuk akal atau tidak?
Sebagai contoh, ada fakta bahwa pada suatu malam listrik mati total di sebuah kota. Lalu ada fakta lain bahwa 9 bulan kemudian angka kelahiran melonjak tinggi di kota itu. Nah, apakah logis menyimpulkan lonjakan angka kelahiran akibat listrik mati total?
Analisis bisa tiba pada sebuah kesimpulan akhir jika datanya lengkap. Dalam kasus kecelakaan pesawat, kesimpulan akhir bisa ditarik apabila data black box sudah tersedia. Semua kesimpulan yang diambil tanpa dasar data lengkap yang valid adalah hipotesa, atau lebih buruk lagi, spekulasi.
Apakah kesimpulan akhir dapat atau tidak dipertanggungjawabkan, sangat tergantung pada rigiditas (keketatan) analisis. Tergantung pada sejauh mana penulis mampu membangun hubungan logis antar fakta, dengan kata lain kekuatan "penteorian" (theorizing). Di sini bekal penguasaan teori penulislah yang berperan sepenuhnya.
Lazimnya, jika data valid dan cukup, lalu penteorian hubungan antar fakta kuat, integritas moral penulisnya juga kuat, maka kesimpulan juga akan kuat dan dapat dipertanggungjawabkan, secara akademis maupun etis. Tulisan-tulisan analitis di Kompasiana, idealnya memenuhi standar ini, paling tidak pada skala minimalnya.
Opini
Sebuah tulisan opini bisa berdasar fakta valid dan analisis rigid, bisa pula tanpa dua landasan itu. Jenis opini terakhir lebih tepat disebut "bualan".
Di sini perlu membedakan tulisan reportase, analisis, dan opini. Dalam reportase, penulis hanya menyampaikan fakta yang ditangkapnya. Fakta awal biasanya kurang valid. Semakin ke belakang biasanya semakin valid. Dalam analisis penulis sudah menafsir fakta dan berteori tentang fakta tersebut. Dalam opini penulis sudah memasukkan keyakinan atau nilai-nilai yang dianutnya.
Karena sudah memasukkan unsur keyakinan atau nilai, maka opini itu pertama-tama adalah masalah integritas. Misalnya, apakah menulis untuk kepentingan diri sendiri (Aristotelian) atau untuk kemaslahatan sesama manusia (Baconian).
Jika menulis agar tulisan menjadi TA atau HL sehingga penulisnya menjadi terkenal, berarti Aristotelian. Jika menulis agar tulisan memberi manfaat bagi sesama, tak peduli masuk atau tak masuk TA atau HL, berarti Baconian. Masuk aliran manakah Anda?
Menulis opini mempersyaratkan integritas akademis dan moral yang kuat. Jika tidak, bisa-bisa tulisan menjadi hasutan, fitnah, penyesatan, pembohongan publik, atau apa saja yang mudarat bagi masyarakat. Penulisnya mungkin menjadi ngetop, tapi tulisannya melukai pembacanya. Mudah-mudahan tidak ada Kompasioner seperti ini.
Oh ya, tulisan ini sendiri adalah sebuah opini.
Buka juga :
Buka juga :
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, silahkan bagikan artikel ini. Semoga bisa menjadi amal jariyah. Barakallah fikum.


No comments:
Post a Comment